Pages

Jumat, 18 Maret 2011

Menanggapi Cara Pembacaan Cerpen

Cerpen atau cerita pendek, yaitu cerita rekaan yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi dan satu waktu hingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasari cerita tersebut. Jika kamu membaca cerpen, harus memerhatikan beberapa unsur.
Cerpen singkatan dari cerita pendek. Cerpen berisi kisah kehidupan manusia secara singkat. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), cerpen adalah kisahan pendek kurang dari 10.000 kata. Walaupun pendek, cerpen memuat unsur-unsur yang membentuknya.
Cerita pendek (cerpen) adalah satu bentuk karya sastra yang ceritanya hanya menceritakan satu peristiwa dari seluruh kehidupan pelakunya.
Unsur Intrinsik Cerpen
1. Tema, yaitu pokok pembicaraan yang mendasari cerita.
2. Plot (alur), yaitu rangkaian peristiwa yang sambung- menyambung dalam sebuah
cerita berdasarkan logika sebab-akibat.
3. Sudut pandang, yaitu posisi pengarang terhadap kisah yang diceritakannya.
4. Gaya bahasa, yaitu cara pengarang menggunakan bahasa untuk menghasilkan karya
sastra.
5. Amanat, yaitu ajaran yang ingin disampaikan pengarang.
6. Penokohan (perwatakan), yaitu pemberian watak pada tokoh cerita.

Berikut ini cara penokohan dalam cerpen.
a. Penokohan secara langsung, yaitu watak tokoh-tokoh cerita itu disampaikan dengan
cara menyebutkan wataknya (misalnya: tokoh A itu penyabar, baik hati, dan suka
menolong) dan dengan cara menyebutkan keadaan fisiknya (misalnya: tokoh A
berpenampilan tidak rapi, rambut awut-awutan, dan berpakaian seenaknya).
b. Penokohan secara tidak langsung, yaitu watak-watak tokoh dalam cerita itu
disampaikan tidak secara terus terang (pemberian watak tokoh A melalui pendapat
dan perbuatan tokoh A tersebut, atau melalui penuturan tokoh lain), sehingga
pembaca harus benar- benar mencermati gerak-gerik dan tingkah laku serta sikap
dan pendapat seorang tokoh dalam cerita agar dapat menyimpulkan watak tokoh
tersebut secara tepat.
7. Setting (latar cerita) yang meliputi:
a. setting tempat, yaitu tempat peristiwa itu terjadi (misal: di ruang tamu
di pasar, di tepi sungai, dan lain-lain), dan
b. setting waktu, yaitu kapan peristiwa itu terjadi (misal: zaman Majapahit,
zaman revolusi, zaman sekarang, dan lain-lain),
c. setting suasana, yaitu terjadi dalam suasana apa, suasana batin (misal:
perasaan bahagia, sedih, marah) atau suasana lahir (misal: sepi, senyap,
hiruk-pikuk).
8. Sudut pandang, yaitu tempat atau letak di mana seseorang melihat objek karangan.
Apabila pengarang dalam bercerita menyebutkan nama aku, berarti menggunakan
sudut pandang orang pertama.Apabila pengarang menyebut dia, berarti menggunakan
sudut pandang orang kedua, sedangkan jika pengarang bebas menceritakan apa
yang dialami oleh semua tokoh, berarti menggunakan sudut pandang serba tahu.

Teknik Pengembangan Cerpen
A. Teknik naratif
adalah teknik pengembangan cerita dalam bentuk paparan narasi. Teknik ini
digunakan pengarang ketika mengembangkan cerita, menggambarkan sosok , dan
menjelaskan latar.
B. Teknik dramatik
adalah teknik pengembangan peristiwa yang dialami tokoh dalam bentuk
melalui dialog.
Hal-hal yang harus diperhatikan pembaca
yakni (1) ketepatan pengungkapan isi teks, (2) kejelasan dan kekerasan suara, (3) ketepatan nada, jeda, dan irama pembacaan, dan (4) ekspresi wajah serta gerak-gerik pendukung yang mendukung penyampian isi teks.
a. Vokal atau pengucapan
Vokal atau pengucapan yang tepat akan membuat pendengar merasa senang untuk
mendengar atau menyimak isi cerpen tersebut. Bila vokal atau pengucapan kurang
jelas, pendengar akan merasa tidak senang, bahkan merasa bosan.Selain itu juga
perlu memerhatikan intonasi dan pemenggalan yang dimaksud pemenggalan adalah
mengucapkan satuan-satuan atau kelompok-kelompok kata.
b. Gerak dan mimik
Gerak dalam membaca cerpen kadang diperlukan, kadang tidak. Gerakan dan
mimik( perubahan raut muka) yang ditampilkan pembaca cerpen bukanlah gerakan
yang diciptakan sendiri. Oleh sebab itu, pembacalah yang harus mengikuti isi
cerpen tersebut.
c. Komunikatif
Pembacaan cerpen bertujuan agar pendengar dapat memahami isi cerpen tersebut
sekaligus menikmatinya. Untuk itu, pembaca cerpen harus mampu berkomunikasi
dengan pendengar. Akan terlihat aneh apabila pembaca cerpen sibuk sendiri. Ia
harus kontak dengan penonton. Hal ini dapat dilakukan dengan sekali-kali melihat
kepada penonton. Untuk dapat melakukan hal itu dengan baik, sebaiknya pembaca
cerpen membaca terlebih dahulu cerpen tersebut sebelum tampil. Dengan begiitu,
pembaca tidak lupa bagian-bagian yang dibacanya ketika ia melakukan kontak
dengan penonton.

Sumber: Buku BSE.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar